Cermin di Museum

Puisi Normantis

cermin di museumCERMIN DI MUSEUM

Cermin berbingkai gerimis
pantulkan gadis
dalam tangis,
tiada yang menghibur
tiada lara yang melipur.

Cermin itu terpasang di sebuah museum,
gadis itu berdiri di belakangku,
gerimis itu ada di raut wajahnya,
tangis berderai di matanya,
dan lara ada di sekujur dia.

Dia memandangi kekasihnya
berdua dengan wanita
bercumbu mesra
di dekat patung Sidharta Gautama.

Kekasihnya takkan mengira
perselingkuhan mereka akan terbuka
di sebuah tempat yang tak pernah ada pengunjungnya
kecuali aku sebagai penjaga

“Pernahkah kau melihat wanita menangis sebelumnya?” tanyanya padaku.
“Pernah, namun tak pernah di sini, tak pernah sesedih ini.” jawabku.
“Jadi akulah yang pertama..?”
“Ya..”

Dia menyerahkan airmatanya padaku,
aku menampungnya dengan pelukku.

Bingkai cermin itu berganti pelangi,
memantulkan dua insan
yang tak saling mengenal,
namun saling melipur lara.

Aku berbisik di telinganya:
“Aku pun pria pertama
yang menangis disini,
namun entah untuk siapa.
Namun bila aku harus menangis lagi
aku akan menangis untukmu.”

Bekasi…

View original post 24 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s