Di Suatu Dahulu

Puisi Normantis

di suatu dahuluDI SUATU DAHULU

Rumah masa kecilku
yang ada di suatu dahulu
hanya berdinding anyaman bambu.

Agar tampak kuat,
Ayah menempelkan kertas bekas
dengan lem dari tepung kanji
dan melaburnya dengan kapur.
Bila hujan datang semuanya luntur.

“Ayah, luntur.”
“Tak apa, Nak. Lekas tidur.”
Ayah sepanjang malam mengumpulkan lap gombal
untuk menambal,
jangan sampai air hujan
merembes ke kasur
agar aku tetap lelap tertidur.

Suatu hari aku minta dibelikan air mancur,
agar mandiku tak usah mengguyur.
“Ayah, di kamar mandi orang kaya ada air mancur,
mereka tak usah gebyur-gebyur.
Tinggal putar kran langsung cur.”
Ayah hanya menghela napas,
mungkin pintaku tak terukur,
ia hanya seorang tukang cukur.

Namun sorenya aku melihat air mancur di kamar mandiku.
Ayah membuatnya dari botol bekas
yang ia lubangi kecil-kecil di bawahnya.
Airnya dari ember yang terus ia isi air dari timba
dari sumur tetangga
dan mengalir melalui selang.
Aku mandi dengan senang
berasa seperti orang…

View original post 55 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s