Dua Penyair (Di Warung Kopi)

Puisi Normantis

image

Penyair 1 : Kawan, puisimu aneh.
Penyair 2 : Wahaha, aneh kenapa?
Penyair 1 : Heran aku, kata-katamu tak ada yang rumit, bisa dibilang bahasa pasar, kok bisa begitu dalam?
Penyair 2 : Yang aneh itu kamu. Kamu toh penyair dengan bahasa sastrawi dan menyimpan segala arti, masa heran dengan puisi kacanganku?
Penyair 1 : Nah, itulah kini aku terjebak dalam kata-kata rumitku sendiri. Tak ada yang mengerti maknanya. Pembaca hanya menganggumi diksi, rima, dan segala teknis puisi. Mereka bilang suka dan kagum biar terkesan mengerti dan menjiwai sastra.
Penyair 2 : Mungkin karena kamu menulis untuk dibaca para sastrawan dan penyair lain. Takut dibilang kacangan khan?
Penyair 1 : (Berpikir)
Penyair 2 : Aku menulis untuk dibaca tiap orang, tak peduli dibilang baik atau jelek, sastra atau bukan. Yang penting mereka mengerti dan memaknai, syukur kalau mengilhami. Suka atau tidak itu urusan selera.
Penyair 1 : Ah, sialan! Ajariā€¦

View original post 23 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s