Duka Yang Paling Duka

Puisi Normantis

duka yang paling dukaDUKA YANG PALING DUKA

Aroma kembang dan kapur barus.
Dua lilin mengapit sebuah figura.
Satu peti di ruang tengah.
Satu per satu tangan menabur bunga.
Suara doa dipanjatkan diiringi tangis kerinduan.

Para pelayat tak pernah seduka ini.
Melihat seorang janda mati,
meninggalkan seorang anak
dengan keterbelakangan mental
yang akan hidup seorang diri.

Pastor berkotbah
tentang debu kembali ke debu.
Bahwa kematian adalah
awal kehidupan yang baru.

Sanak keluarga tak ada yang datang,
hanya anaknya seorang.
Pastor memegang pundak anak itu,
menyodorkannya pengeras suara.
Bocah dua belas tahun
yang lambat berkembang kejiwaannya
diminta bicara mewakili keluarga.

Para pelayat gugup,
getir menyelimuti hati,
entah apa yang akan dikatakan anak itu nanti.
“Bicaralah, Nak. Tentang ibumu.”
kata Pastor kepada anak itu.

Anak itu melihat wajah pucat ibunya,
dan mulai berkata:
“Waktu aku kecil, Ibu selalu mengupaskanku kuaci.
Katanya aku harus belajar untuk mengupas sendiri.
Aku belajar. Aku belajar lagi.
Sekarang aku bisa mengupas…

View original post 60 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s