Tampang Pengemis

Puisi Normantis

tampang pengemisTAMPANG PENGEMIS

Jual tampang
harus modal tampang.
Tak ada tampang,
ya harus menjual yang lain
selain tampang.

Masalah modal dan jual tampang,
tak hanya dibutuhkan oleh
sebagian selebritis dan politis,
namun juga pengemis.

Di bulan suci,
pengemis-pengemis duduk rapi,
di emperan toko,
di halaman rumah ibadah,
di dekat jembatan,
di sudut-sudut keramaian.

Tampang paling miris,
sukacitanya hampir habis,
daging di tubuhnya begitu tipis,
wajahnya menggambarkan
habis terkena tragedi tragis,
begitu nelangsa saat meringis
karena mungkin selama ini susah pipis
akibat berhubungan intim dengan sesama jenis,
akan pulang dengan kantong rupiah yang tak tipis.

Pengemis tak seluruhnya kere,
ada juga yang matre.
Yang kasihan adalah yang sungguhan miskin,
namun tampangnya tak membikin orang yakin
bila dia miskin.
Tampangnya dijelek-jelekkan,
malah berujung menyeramkan.
Tampangnya dibuat mengenaskan,
malah terlihat begitu menjijikkan.

Kadang, saat kita keluar dari mini market,
pengemis itu jumlahnya lebih banyak dari yang belanja.
Bahkan ada yang membawa
serombongan keluarga.

Biar…

View original post 125 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s