Yudistira Dalam Fragmen Mahabharata

Ini tahun ke tiga belas dalam masa pembuangan.
Yudistira terenyak menyaksikan dua saudara sekandungnya mati,
tergeletak di pekat hutan dalam terik siang.
Bima dan Arjuna,
Putera Pandu dan Ibu Kunti.
ADVERTISEMENT

Diamatinya,
Yudistira tak menemukan sedikitpun luka petempuran
dari kedua ksatria tangguh itu.

Puisi Normantis

Illustrations_from_the_Barddhaman_edition_of_Mahabharata_in_Bangla__which_were_printed_in_wood_engraving_technique_(7)Ini tahun ke tiga belas dalam masa pembuangan.
Yudistira terenyak menyaksikan dua saudara sekandungnya mati,
tergeletak di pekat hutan dalam terik siang.
Bima dan Arjuna,
Putera Pandu dan Ibu Kunti.

Diamatinya,
Yudistira tak menemukan sedikitpun luka petempuran
dari kedua ksatria tangguh itu.

Selemparan batu,
Yudistira menemukan dua saudaranya lagi,
Nakula dan Sadewa.
Seayah berbeda ibu,
mereka putera Madrim.

Dalam diam
Yudistira mendengar suara,
“Mereka mati terkena kutuk.
Tulah kematian bagi peminum air telaga terlarang.”

Mengapa mereka meminum air telaga itu?
Atau mengapa telaga itu terlarang?
Bukankah di bumi ini segala air menyejukkan dan melepas dahaga?
Bukan malah melepas nyawa,
Nyawa dari keempat saudara seayahku pula?
Beraneka tanya berkecambuk di benak Yudistira.

Suara gaib itu terdengar kembali,
“Kau hanya punya satu pilihan,
yaitu memilih satu saja dari keempat adikmu,
yang akan kembali dihidupkan.
Siapa yang kau pilih, Yudistira?”

Yudistira menelan ludah,
Ini pilihan sulit,
Keempatnya tak ada yang tak ia cintai.

View original post 146 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s